Lewati ke konten

Karyawan Anda Sudah Memakai AI. Pertanyaannya: Diatur atau Dibiarkan?

Akhmad Guntar2 menit baca

Coba tanyakan kepada tim Anda, siapa yang minggu ini memakai ChatGPT, Gemini, atau Claude untuk pekerjaan. Kemungkinan besar banyak tangan terangkat. Kemungkinan besar juga, sebagian dari mereka memakai akun pribadi.

Ini bukan dugaan. Laporan Verizon Data Breach Investigations Report 2026, sebagaimana dirangkum Nasstar pada Agustus 2026, mencatat pemakaian AI secara rutin di perangkat kerja naik dari 15% menjadi 45% karyawan dalam setahun. Jenis data yang paling sering dikirim ke alat AI yang tidak disetujui adalah kode sumber. Survei Censuswide untuk Microsoft terhadap lebih dari 2.000 karyawan di Inggris menemukan 71% pernah memakai alat AI konsumen yang tidak disetujui di tempat kerja.

Angka Indonesia belum banyak tersedia. Namun polanya mudah dikenali: surat yang ditulis ulang dengan AI, notulen yang diringkas, data penjualan yang ditempel untuk dianalisis. Semuanya produktif. Semuanya juga berarti data organisasi keluar tanpa catatan.

Mengapa larangan jarang berhasil

Larangan total terdengar tegas, tetapi efeknya sering terbalik. Karyawan tetap memakai AI karena manfaatnya nyata, hanya saja kini diam-diam. Organisasi kehilangan dua hal sekaligus: manfaat yang bisa dibagikan ke seluruh tim, dan kemampuan melihat data apa yang keluar.

Membiarkan juga bukan pilihan. Di dalam teks yang ditempel ada nama pelanggan, nomor identitas, angka keuangan, dan rahasia teknis. Dengan UU Pelindungan Data Pribadi yang sudah berlaku, kelalaian semacam ini tidak lagi sekadar urusan internal.

Tiga keputusan yang perlu diambil

Pertama, data mana yang boleh keluar. Tidak semua data sama. Pengumuman publik boleh. Data pribadi dan angka keuangan internal perlu disamarkan dulu. Sebagian kecil data tidak boleh sampai ke AI sama sekali. Keputusan ini sebaiknya diambil bersama pemilik proses, bukan oleh tim TI sendirian.

Kedua, alat mana yang resmi. Sediakan jalur yang aman dan sama mudahnya dengan akun pribadi. Bila jalur resmi lebih repot, karyawan akan kembali ke cara lama.

Ketiga, apa yang dicatat. Organisasi perlu tahu siapa memakai AI, untuk pekerjaan apa, dan berapa biayanya, tanpa harus menyimpan isi percakapannya. Catatan semacam ini menjadi bukti saat diaudit.

Satu langkah kecil minggu ini

Mulailah dengan inventaris singkat. Minta tiap unit menuliskan tiga pekerjaan yang paling sering dibantu AI dan jenis data yang terlibat. Daftar itu biasanya cukup untuk melihat di mana risiko terbesar dan di mana manfaat terbesar berada.

AI di tempat kerja sudah terjadi. Pilihan yang tersisa hanya dua: mengaturnya dengan sadar, atau menemukan masalahnya belakangan.

Bacaan: Shadow AI triples in a year (Nasstar, 27 Agustus 2026)

Bagikan

Ditulis oleh

Akhmad Guntar

Pembuat keluarga alat AI Voltaic

Lulusan Teknik Informatika dan Teknik Industri ITS. Lebih dari 20 tahun merancang metode manajemen dan membangun perangkat lunaknya. Kini mengubah metodologi yang sudah teruji menjadi alat AI yang dapat dipertanggungjawabkan untuk organisasi Indonesia.

linkedin.com/in/guntar
  • AI yang aman dan dipakai

    Separuh Perusahaan Sudah Memakai Agen AI, Seperempat yang Mengukurnya

    Agen AI mulai menjalankan pekerjaan, bukan sekadar menjawab pertanyaan. Survei terbaru menunjukkan adopsinya cepat, tetapi pengukuran dan kebijakannya tertinggal. Sebelum menambah agen, tetapkan dulu ukurannya, dan berani memilih untuk tidak memakai AI.

  • AI yang aman dan dipakai

    Menunggu Perpres AI: Yang Bisa Disiapkan Organisasi Sekarang

    Dua Perpres tentang AI disebut tinggal menunggu tanda tangan Presiden. Salah satunya akan membagi pemakaian AI menurut tingkat risiko. Organisasi tidak perlu menunggu teks finalnya untuk mulai memetakan pemakaian AI-nya sendiri.